Jumat, 29 Januari 2016

Dibacok di Gunung Geulis


Selain punya musim panas dan musim hujan, negara kita juga punya musim begal. Para pembegal itu adalah perampok yang tidak sopan. Mencegat orang di jalan, pakai senjata tajam, dan tak segan-segan melukai korban. Tidak hanya di Depok yang dianggap rawan, di daerah lainpun begal unjuk ketenaran selama ada kesempatan. Tapi pernahkah kalian membayangkan ada begal di atas gunung? Sebelum pembegalan terjadi pun sempat ada percakapan singkat yang sopan, bertegur sapa punten dan mangga ala orang Sunda. Namun berakhir dengan berdarah-darah. Si korban terkena bacok di kepala. Ya, saya pernah mengalaminya. Kejadiannya sudah lama. Tapi saya baru menuliskannya sekarang, sekadar untuk sharing barangkali ada gunanya.


Terlebih dahulu saya akan ceritakan mengenai diri saya.
Saya merantau ke Jatinangor sejak 3 Desember 2007 dan bekerja di Jatinangor Town Square (Jatos). Tahun 2009 saya dapat mewujudkan keinginan saya untuk kuliah. Saya kuliah di Ikopin. Untuk membiayai kuliah saya harus bekerja ekstra. Selain bekerja di Jatos, saya juga bekerja di warung Nasi Goreng Padang, persis di seberang Jatos. Pemiliknya masih orang yang sama. Risiko dari kesibukan saya, saya pun merasa kurang eksis sebagai mahasiswa. Tidak ada kesempatan untuk mengikuti kegiatan-kegiatan kemahasiswaan. Saya juga jarang sekali jalan-jalan atau sekedar bersantai-santai  bersama teman-teman. Saya harus mengutamakan kuliah dan kerja. Saya sering keteteran mengatur waktu, dan menjaga stamina. Saya jarang sekali atau bahkan nyaris tidak pernah libur kerja. Tapi passion is passion. Saya suka keindahan alam. Saya sangat exited pada gunung. Di Jatinangor ada Gunung Manglayang di sebelah utara dan Gunung Geulis di sebelah timur. Jika ada kesempatan, pagi-pagi (sehabis subuh) sebelum berangkat kerja saya suka jalan-jalan meskipun sendirian. Kadang saya jalan-jalan di lingkungan kampus Unpad dan ke utara, ke arah Kiara Payung atau ke timur ke bukit di kaki Gunung Geulis. 

Saya pernah ke Gunung Manglayang malam Minggu jam 10 berangkat secara dadakan camping numpang bermalam di tengah hutan bersama teman-teman kosan. Mereka alumni Unwim yang kebetulan masih tinggal di kosan (Pondok Al Barokah). Pagi-paginya kami langsung pulang karena saya masuk kerja jam 9. Sedangkan Gunung Geulis, saya belum pernah kesana (mendaki sampai puncak), paling sering saya hanya sampai di bukitnya, di dekat komplek Panorama. Bukit ini sangat indah. Dari sini kita bisa melihat seluruh Jatinangor. Ada Jatos dan asrama Unpad yang warna catnya menonjol, bangunan lainnya kecil-kecil. Jatinangor ini seperti cawan. Jatinangor ada di tengah dan bawah, sekelilingnya adalah gunung dan perbukitan. Di bukit Panorama ini ada bebatuan besar dan beberapa diantaranya seperti gunung kecil berbentuk runcing atau piramida yang berwarna hijau. Saat itu saya belum punya kamera. Jadi berkali-kali saya datang kesini hanya untuk menikmati keindahan dan menyimpan memorinya secara alami, mengandalkan ingatan. Primadona yang terlihat di bukit ini adalah Gunung Geulis. Dia semakin terlihat geulis (cantik). Bahkan kita bisa dengan jelas melihat pohon-pohonnya, termasuk pohon beringin yang ada di puncak Gunung Geulis. Sepertinya sangat dekat untuk mencapai puncak. Katanya sih perjalanan dari bawah ke puncak cuma sebentar, kira-kira 2 jam jalan kaki. Kalau jalan kakinya cepat bisa 1,5 jam. Tapi dari bukit ini tidak ada jalur menuju puncak Gunung Geulis.

Cerita tentang pembacokan saya di Gunung Geulis terjadi saat masa libur panjang kuliah. Saat itu libur akhir semester 2 sekaligus menjelang bulan puasa dan lebaran. Tapi meskipun kuliah libur, di tempat kerja saya tidak bisa libur. Suatu kesempatan langka, hari itu tepatnya hari Kamis 22 Juli 2010, saya diberi kesempatan oleh boss (Uni dan Uda) untuk masuk kerja jam 12 siang. Di saat yang sama, teman saya yang bekerja di Jatos tapi lain boss juga sedang dapat jatah libur. Dia dulu pernah bilang ke saya katanya ingin ke Gunung Geulis. Maka dengan adanya kesempatan ini, berangkatlah kami berdua kesana.

Teman saya orang Sunda, namanya aslinya Iis. Tapi saya sering memanggilnya Aisyah. Rupanya Iis ini ingin berfoto-foto di Gunung Geulis. Dia meminjam handphone baru adiknya yang dilengkapi fitur kamera. Adik Iis baru bekerja di Jatos. Jadi handphone itu adalah hasil gaji pertama adik Iis bekerja. Sedangkan saya santai saja, berbekal seadaanya seperti biasa. Pakai tas ransel, yang isinya cuma sebotol air minum, sekotak nasi, jaket, dan dompet. Dompet pun isinya tidak seberapa, tidak sampai 50 ribu. Benda yang paling penting di dompet itu cuma kartu ATM, dan itu penting bukan karena ada isinya tapi karena kartu ATM itu bukan punya saya melainkan punya boss saya yang dititipkan ke saya kaitannya dengan urusan kerja.

Kami berangkat pagi-pagi sekali. Kali ini tujuannya bukan ke bukit tapi langsung ke Gunung Geulisnya. Jika menuju bukit biasanya saya mendaki dari pangkalan truk tempat penimbunan pasir dekat komplek Panorama. Sedangkan untuk menuju Gunung Geulis, menurut beberapa petunjuk, jalurnya dari pangkalan ojek daerah Jatiroke. Jadi saya mengambil jalur pangkalan ojek Jatiroke. Ini pertama kalinya saya melalui jalur ini.

Kami masuk ke gerbang pangkalan ojek menuju perkampungan kecil. Banyak kos-kosan di daerah sini. Sampai mentok ada sawah-sawah dan SD. Ada lapangan kecil juga. Tepat seperti yang digambarkan oleh orang-orang tentang jalur menuju Gunung Geulis. Lingkungan disini lumayan, tidak begitu sepi. Ada orang-orang yang sedang beraktivitas di sawah, cari rumput di lapangan, anak-anak berangkat sekolah, dan juga beberapa orang  di kebun-kebun yang menuju gunung. Dari lapangan ini kami naik ke atas menuju Gunung Geulis. Iis sempat berfoto-foto. Dia juga memotret ke bawah, ke lapangan dan sawah yang tadi kami lalui.

Ini benar-benar gunung. Jalur yang kami lalui ternyata rimbun. Kami menembus semak belukar. Bahkan sedikit menundukan kepala dan badan seperti menerobos terowongan rerumputan. Saya sempat heran kenapa ada jalan setapak tapi rimbun. Apakah sudah jarang dilewati? Atau kami salah jalan? Saya berjalan di depan karena merasa saya yang harus bertanggung jawab mencari jalan. Setelah semak belukar kami lewati, kami berada di tempat yang terlihat gelap dan tidak nyaman. Agak horror rasanya.
“Kan, udah yuk?” Iis sudah mulai menyerah.                                                                                                             
Oya beberapa teman dekat saya di kosan Al Barokah memanggil saya Ikan. Nama saya Nila. Mungkin bagi mereka saya mengingatkan mereka pada Ikan Nila. Lucunya ada juga yang memanggil saya Mbak Ikan atau Teh Ikan.

“Sebentar Is, ini tempatnya gak enak buat berenti. Nanti kalo ketemu tempat yang pas baru kita berenti”.  
Saya tidak menurutinya karena menurut saya sangat tidak pas berhenti disini. Ini tempatnya horror. Ada bekas gubug yang sepertinya sudah tidak pernah dipakai lagi. Saya merasa paranoid. Rasanya aneh dan angker. Saya bertekad kalau ada tempat yang layak saya akan langsung berhenti, kasihan Iis barangkali capek. Kami melanjutkan perjalanan tapi masih belum menemukan tempat yang lapang. Jalan ini hanya setapak, hanya cukup dilewati seorang-seorang. Sebelah kiri kami lereng yang ditumbuhi pohon jati.

Saat sedang berjalan, sekitar 5 meter di depan saya ada seseorang yang menerobos dari perbukitan jati, alias tidak sedang berjalan di jalur setapak. Saya tidak pakai kacamata jadi tidak bisa melihat dengan jelas dari jarak segitu. Saya kira itu perempuan berkerudung hitam panjang. Saya sudah biasa bertemu para akhwat dari Unpad yang ternyata mereka juga suka berpetualang. Bahkan sebelum kuliah di Ikopin, saya pernah diminta beberapa akhwat Unpad untuk mengantar mereka ke bukit Panorama.
Merasa akhirnya bertemu sesama pendaki di tempat sepi, saya sedikit supprised senang dan berkata penuh gaya:
“Weww!! Ada akhwat” sambil menoleh ke arah Iis di belakang saya.

Saya menghentikan langkah, maksudnya untuk mempersilahkan orang itu agar bisa lewat. Setelah dekat, wooohhh... ternyata bukan akhwat toh. Itu laki-laki yang baju kaosnya dia pakai untuk menutup muka macam ninja. Dari bentuk badannya dia ini pasti bapak-bapak. Saya pun merasa biasa saja meskipun dia membawa golok. Saya tidak curiga sama sekali karena di kampung saya biasa melihat petani-petani atau kuli bangunan berpenampilan seperti ini. Menutup muka dengan baju kaosnya. Tunjuannya untuk melindungi muka dan kepala dari sengatan matahari sebagai alternatif topi. Saya pikir laki-laki di depan saya ini paling orang sekitar sini yang sedang berkebun atau menebang pohon.

Sebagai pendatang saya merasa patut berlaku sopan pada warga pribumi. Maka ketika orang itu mendekat saya minggir sedikit , mempersilahkan dia lewat dan menyapa:
Punten, pak”
Orang itu pun menjawab:
Mangga
Tapi saya dapat hadiah kejutan tak tertuga dari dia. Sebuah golok panjang tepat berada di leher kiri saya dan laki-laki ini berkata dalam bahasa Indonesia tapi terdengar seperti logat Sunda:
“Jangan teriak, jangan ngalawan, jangan lari, serahkan semua barang-barang kamu”.

Saya sempat mendengar suara Iis panik, tapi saya tidak memfokuskan dia komat-kamit  apa. Saya sedang mikir. Ini serius nih? Seriusan ini rampok? Ah masa sih?
Dalam keadaan tertodong golok di leher saya tetap tenang karena sedang menyakinkan diri saya sendiri ini serius atau tidak? Kok seperti di tipi-tipi?.

Saya pun berusaha mencari akal sambil terus mengulur waktu dan mencoba mengalihkan perhatian si begal. Sebut saja dia  manusia kura-kura ninja. Akhirnya kalimat bego pun keluar dari mulut saya.
“Pak, sebentar Pak, saya mau tanya...”
Haduuuhhh.. dalam keadaan seperti ini mana ada orang mau ngrampok menjawab pertanyaan dulu?.
“Serahkan semua barang-barang kamu!” Si kura-kura ninja makin mengancam.
“Iya Pak, tapi sebentar ya Pak, saya mau tanya alamat duluuu.....”
Tuh kan makin ngaco saya. Ngapain nanya alamat? Di gunung nanya alamat? Gak nyambung, bung!

Tujuan saya adalah untuk mengulur waktu, mengecohkan fokus si manusia kura-kura ninja dan cari akal untuk menyelamatkan diri. Sambil terus mengecoh dengan kata-kata yang gak nyambung akhirnya saya dapat kesempatan untuk jongkok guna menghindari tebasan golok di leher.
Pas saya jongkok, tas punggung saya diambilnya secara paksa. Sebetulnya dengan posisi jongkok tas saya sulit dia ambil alih karena ada pengaitnya di sekitar bawah pinggang. Saya juga sempat kalkulasi dalam hati:
“Ada apa saja di tas saya. Biarin deh gak seberapa nilainya. Handphone di tas, Gakpapa. HP jadul ini!. KTP dan kartu-kartu lainnya? Nanti bikin lagi aja! Waduuh ATM Uni!!!! Udahlah biarin aja. Kasih aja semua. Orang kayak gini mah gak usah dilawan. Kasih aja, biar pergi!”.

Akhirnya saya ikhlasin tuh tas buat dia. Terus dia pakai tas itu di punggungnya. Melihat dia pakai tas, mendadak dalam hati saya protes:
“Itu tas abang gue!!!”
Sekali lagi bukan karena nilai rupiahnya. Saya protes dalam hati karena tas itu milik kakak saya (si Roy) yang saya minta waktu jaman SMK karena saya sering camping. Rasanya saya gak redo tas kakak saya yang baik hati dan menawan dipakai oleh si tukang begal. Tapi dalam situasi seperti ini saya harus berpikir dan bertindak cepat. Materi apapun harus saya lepas. Apalagi cuma benda murah bernama tas.
 Padahal tas sudah saya lepas, manusia kura-kura ninja ini masih belum puas. Dia grepe-grepe saku saya. Saya tidak terima. Saya langsung berdiri dan menepis tangannya kesal.
“Udah gak ada lagi Pak. Itu di tas semua!”

Lalu si manusia kura-kura ninja  menghampiri Iis. Mau minta barang-barang lagi. Ini orang sudah dapat sepunggung masih belum puas juga. Iis histeris. Dia menjerit berkoar-koar.
Haduh bocah....ngapain sih teriak-teriak. Teriakan Iis ini dikhawatirkan bisa menyebabkan si begal panik terus mampusin kita. Aih.... saya keingetan! “Iis bawa HP adiknya lagi. Kalau milik saya yang dirampok semua mah biarin aja. Lha ini adik Iis yang gak ikutan apa-apa harus kena apesnya juga”.

Melihat keadaan genting karena Iis semakin histeris, sementara saya dalam keadaan bebas dari pantauan  manusia kura-kura ninja, langsung timbul kenekatan saya untuk melawan. Saya incar dulu tangannya yang pegang golok, saya sergap dan saya kunci. Berbekal secuil ilmu beladiri polri yang saya dapatkan saat mengikuti kegiatan Saka Bhayangkara di Polresta Tegal,  tangan manusia kura-kura ninja berada dalam kendali saya. Sempat mikir juga sih saya pegangan tangan sama yang bukan muhrim. Hih! Astagfirullah.. yawooh!

Celakanya ilmu saya masih teramat cetek. Tangan manusia ini memang terkunci, tapi kakinya lepas kendali. Saya ditendang-tendang sampai terjatuh, tapi saya masih kuat mengunci tangan si kura-kura ninja. Kura-kura ninja makin kalap. Saya ditendang-tendangnya dengan kuat mau dijatuhkan ke lereng. Kuping saya mendengar dengan jelas. Manusia kura-kura ninja  ini punya logat seperti orang Sunda. Sambil nendang-nendang saya dia seperti memarahi saya:
“Kamu nglawan aja, kamu!”

Saya hafal logat kawan-kawan Sunda saya yang suka bilang “kamu, ari kamu”.
Dialek manusia kura-kura ninja  ini juga mengingatkan saya pada iklan tv mie instan edisi kerja bakti yang nadanya hampir sama: “kamu, punya papa!”. Bagi kalian yang gak tau, lupakan saja lah. Ini iklan jaman dulu sekali. Cuma saya memang masih ingat karena ini salah satu iklan yang menurut saya lucu di tipi. Dan saya kan suka nontonin iklan-iklan lucu.

Kembali lagi ke cerita berduel dengan manusia kura-kura ninja. Saat dia menendang-dendang berusaha menjatuhkan saya ke lereng, saya sempet mikir (saya kebanyakan mikir ya): kalau saya jatuh ke bawah, bukan cuma saya yang celaka, tapi nasib Iis bisa lebih bahaya. Akhirnya, si manusia kura-kura ninja saya tarik sekuat tenaga agar sama-sama jatuh ke bawah. Dan benar saja. Kami jatuh di lereng. Otomatis kunci tangannya terlepas. Mungkin kami jatuh di lereng berguling-guling macam pilem India. Tapi jangan dibayangkan se norak keromantisan film India. Ini saya berguling sambil mempertaruhkan nyawa. Keselamatan saya di ujung tanduk. Sebisa mungkin dalam gegulingan saya melawan. Menonjok dan menendang. Tapi tuh manusia curang! Masa kerudung saya ditariknya sampai menutupi mata? Saya kan jadi tidak bisa melihat!
Ah bodo amat. Saya berontak, bergelut membabi buta. Macam pendekar si buta dari goa lawa.
Dalam situasi yang menekan, kita bisa mengeluarkan tenaga ekstra kali ya? Saya ini seorang perempuan bertubuh tidak besar tapi bisa menjatuhkan lawan. Manusia kura-kura ninja itu terlempar atau terperosot ke bawah. Saya sempat melihatnya. Untuk bisa melihatnya saja saya harus mendongakkan kepala karena kerudung saya yang tadi ditariknya lumayan menghalangi pandangan mata. Dia kabur. Saya sempat mengancamnya:
“HEH... AWAS KAMU YA!!!”

Lalu saya membetulkan kerudung. Saya tarik kedudung saya dari bagian kepala atas pas tengah-tengah sedikit kebelakang pakai tangan kiri. Haduh koq lengket? Agak susah, tapi saya berhasil membetulkannya agar tidak menghalangi mata.
Wih saya terkejut. Tas saya tergeletak. Ternyata terjatuh dari punggung manusia kura-kura ninja. Hihi rupanya gak bisa pakai tas ransel, dia! Tas itu saya ambil, saya buka, dan segera ambil handphone.
 
“HALO KANTOR POLISI. TOLONG PAK. ADA PENJAHAT PAK. KAMI DI RAMPOK. DI GUNUNG GEULIS. TOLONG SEGERA KIRIM BANTUAN PAK. IYA PAK. PERAMPOKNYA CUMA SATU ORANG. SEGERA PAK. IYA JALUR YANG DEKAT LAPANGAN SD”.

Jangan kalian pikir saya betulan menelfon polisi. Jangankan menelpon, nomor telepon Polsek Jatinangor pun saya belum punya. Saya punyanya malah nomor Polresta Tegal. Lagi pula saya tidak punya pulsa telepon. Hah. Tadi saya cuma acting. Tadi pas pura-pura nelfon saya pakai suara kencang-kencang. Maksudnya suapaya si manusia kura-kura ninja dengar. Padahal nih aslinya saya tidak pernah bersuara kencang. Di keluarga, jaman saya kecil memang dilarang keras-keras kalau bicara. Dan dugaan saya, sepertinya suara kencang saya fals  kedengarannya.

Pas saya mau naik lagi ke atas, ke tempat saya tadi bersama Iis, saya menemukan selongsong golok. Waah itu manusia kura-kura ninja memang ceroboh. Sembarangan. Akhirnya saya ambil selongsong golok itu. Entah untuk apalah, yang penting saya ambil saja, barangkali bisa jadi barang bukti.
Saya hampir tiba di atas, tapi Iis tidak ada.

“Is, Aisyah...” saya panggil-panggil tapi dia tidak ada. Wahh saya ditinggal nih.
Tiba-tiba dua orang berlari dari arah kiri atas menuju ke kanan bawah. Itu Iis dan seorang bapak-bapak. Mereka tidak melihat saya. Saya terlewati.
 “Aisyaahhhh....” saya panggil Iis sampai dia dengar dan melihat posisi saya di bawah. Rupanya Iis cari bantuan. Mereka menghampiri saya. Saya segera naik. Ketika hendak naik rasanya lemas sekali. Akhirnya terpaksa saya minta bantuan.
“Pak, tolong Pak” kata saya sambil mengulurkan tangan. Tangan kanan saya sedang membawa selongsong golok dan berpegangan pada akar-akar pohon jati, jadi saya mengulurkan tangan kiri.
Dan saya kaget sendiri melihat tangan kiri saya berlumuran darah. Banyak dan kental. Ini darah siapaa??
Apa saya melukai kura-kura ninja? Ah saya kan gak bawa senjata. Lah berarti ini darah saya? Koq gak ada kerasa sakit apa-apa?

Begitu saya sudah ditarik ke atas, sudah di samping Iis dan seorang bapak-bapak, saya membenahi diri. Dibantu Iis, tas saya dipegangnya.
“Is tolong liatin dong, ini kepalaku luka ya?
“Hiiiii...Ikaann... kepala kamu berdarah”
“Parah gak Is lukanya?”
“Ngga keliatan koq Kan. Kerudungnya sobek”. Nadanya terdengar tenang.

Kebetulan saya mengenakan kaos panjang yang didoble rompi sweater yang ada kupluknya. Jadi saya pakai kupkuk itu untuk menutupi kerudung yang katanya sobek.
Mungkin karena keadaan saya terlihat biasa-biasa saja, bapak-bapak yang dibawa Iis sepertinya tidak begitu total dalam memberikan pertolongan. Da saya mah srong. Kepala saya pernah di lempar pakai gelas mug sampai gelasnya pecah tapi kepala saya tidak apa-apa. Mulus tanpa cidera.

Si bapak ini tidak bisa dimintai tolong untuk mengantar kami ke bawah. Katanya nanggung, ada kerjaan. Bapak itu bilang, kalau mau diantar, kami ikut ke atas dulu dan menunggunya menyelesaikan pekerjaan. Iis membujuk saya supaya kami ikut bapak itu ke atas, daripada kami turun sendiri ke bawah, bahaya. Dikhawatirkan si begal masih ada di sekitar sini. Akhirnya kami bertiga ke atas.
Si bapak ini rupaya pencari kayu bakar. Kayu yang sudah dia kumpulkan dia potongi. Sambil menunggu si bapak menyelesaikan pekerjaannya, si bapak menyuruh kami duduk dulu. Dia juga menanyakan saya bawa minum atau tidak. Dia menyuruh saya untuk minum atau makan perbekalan dulu. Iis yang repot menawari saya:
“Minum ya Kan, mau makan?”
“Ga Is. Mau muntah!” Saya betul-betul mau muntah. Orang mau muntah disuruh makan!

Entah berapa lama saya nongkrongin bapak-bapak motongin kayu demi untuk diantarkan ke bawah. Saya merasa eneg. Mau muntah. Lemes. Keringat sudah mulai gerojosan. Darah sudah menetes-netes, mengalir ke punggung. Terasa menembus ke baju dalam. Bau amis!. Ah pokoknya engap. Saya ingin cepat-cepat ke bawah. Beresin ini semua. Ini si bapak gak peka apa ya? Nanti kalau saya keburu mati gimana?
Untunglah si bapak tidak terlalu lama menyelesaikan pekerjaannya. Dugaan saya, kalau kami tidak ada mungkin bapak ini bisa memperoleh kayu bakar lebih banyak lagi. Si bapak mengikat kayu-kayu tadi dan memanggulnya. Kami bertiga turun gunung. Hore...Alhamdulillah ya.

Di perjalanan saya berfikir apa yang harus saya lakukan. Saya pikir saya baik-baik saja. Paling saya perlu ke puskemas, diperban sedikit, setelah itu siangnya saya bisa masuk kerja. Beres deh. Oh berarti saya juga butuh uang, untuk jaga-jaga barangkali biayanya agak besar karena saya bukan warga sini. Aduh saya tidak punya tabungan. Akhirnya saya menghubungi Mbak Ira, teman sekelas saya di kampus. Ternyata Mbak Ira sedang di pulang ke Ambon.

Di perjalanan saya juga sempat membalas SMS dari Uda (boss saya) yang menanyakan tukang sayur langganan mengirim apa saja. Saya balas “daun bawang, bawang, merah, bawang putih, sawi, bla..bla..bla”.
Tuhan... terimakasih telah menjadikan saya worder woman yang siap bekerja dalam keadaan apa saja. Aslinya lelah...

Perjalanan sudah berada di tempat yang lapang.

“Neng sampe sini aja ya. Bapak gak bisa nganterin ke bawah. Eneng tinggal jalan aja kesitu. Dikit lagi nyampe”.
Penolong kami mengundurkan diri. Tidak bisa menolong sepenuhnya. Pesan moral yang saya ambil untuk diri saya sendiri adalah : JANGAN SETENGAH-SETENGAH. Meskipun pertolongan bapak itu tidak tuntas tapi kami mengucapkan terimakasih.

Setelah ini kami harus jalan sendiri. Tanggung risiko sendiri. Usaha sendiri. Kocar-kacir sendiri. Terancam mati.
Kami sampai di bawah, di langangan SD. Kemana ini orang-orang gede?
Orang-orang yang tadi pagi beraktivitas di sini tidak ada lagi. Yang ada hanya anak-anak kecil.
“Kunaon teh? Kunaon teh?” Anak-anak kecil itu membututi kami.
“Hiiii...eta getihan”
Darah saya mengalir semakin banyak sampai ke dagu. Saat saya mengusapnya dengan tangan, semakin banyak darah dan menetes dan mengalir ke lengan.
“Is tolong ambilin jaket aku yang di tas” Jaket itu saya pakai untuk menutupi kepala dan muka.

Anak-anak kecil ini ribut, tapi dari mereka belum ada kemampuan memberi pertolongan. Mereka ingin tahu, belum punya inisiatif untuk membantu. Saat kami celingak-celinguk mencari ojek, mereka cuma bilang teu aya (gak ada). Kemana nih orang-orang dewasanya?
Help me..help..me. Ini ada yang mau mati!

Sampailah kami di jalan aspal yang jelek. Masih belum muncul juga tukang ojek.
“Aduh Kan, gimana, gak ada tukang ojek”

Ayo terus berusaha, cari bantuan. Suasana yang ajaib mendadak sepi dari peradaban orang dewasa membuat kami terus celingak-celinguk sambil berjalan mencari bantuan. Hingga akhirnya muncul seorang  Aa-Aa (Panggilan untuk laki-laki Sunda, kalau istilah Jawa setara dengan mas-mas) mengendarai motor. Kami memberhentikannya.
Kunaon teh ?”
“A tolong anterin ke puskesmas”
Si Aa ini membaca situasi, dia mulai terlihat kaget dan penasaran ingin tahu.
Kunaon teh? Kecelakaan?”
“Iya, cepet A tolong anterin” Saya jawab saja iya supaya cepat.

Tak peduli dia tukang ojek atau bukan, dia mendapat tugas mengantarkan kami ke puskesmas. Kami berboncengan tiga ke Puskesmas yang paling dekat, Puskesmas Jatinangor. Si Aa ini gesit juga naik motornya.
Puskesmas Jatinangor saat itu sedang ramai. Banyak sekali pasien. Si Aa berinisiatif langsung ke UGD. Di UGD kami ditolak karena tempatnya sudah penuh oleh pasien. Si Aa langsung mengatakan ke putugas kesehatan (entah dokter, entah perawat, saya tidak bisa membedakan karena di puskesmas seragam mereka semua sama):
“Darurat ieu. Ieu teh kecelakaan!” (Darurat ini. Ini tuh kecelakaan!)
“Sok-sok kadieukeun”. (Cepat bawa kemari). Petugas kesehatan langsung mempersilahkan saya masuk begitu mendengar kata kecelakaan.

Ternyata KECELAKAAN punya kekuatan magis, saudara-saudara. Kata ini bisa menggerakkan Aa-Aa yang tadinya mungkin cuma sedang lewat jadi tukang ojek mendadak dan bertindak cepat, yang tadinya hanya ingin tahu jadi siap membantu, petugas puskesmas yang tadinya keberatan jadi mempersilahkan.

Di ruang UGD Puskesmas saya dipersilahkan duduk. Semua ranjang pasien telah terisi orang-orang sakit.
“Dibuka teh, kerudungnya”. Petugas itu berkata sambil lalu lalang menyiapkan peralatan.
What??? Dibuka??? Saya sempat dilema karena petugasnya laki-laki, pasien-pasien yang sedang berbaring disini pun ada beberapa yang laki-laki. Bukan muhrim.
Ini darurat, Nila. Ini urusan medis.
Saya seperti sedang tanya jawab pada diri sendiri hingga akhirnya saya terpaksa membuka kerudung.
Begitu kerudung pelan-pelan saya buka,
CROOTTT
Darah langsung muncrat dari kepala saya. Muncratnya sekitar 2-3 meter jauhnya dari tempat saya duduk, jatuh ke lantai keramik yang putih. Sayapun tidak mengira ada keajaiban macam ini. Pasien yang sedang terlentang di ranjang pun bangkit seperti menyaksikan atraksi langka.

Petugas puskesmas panik dan langsung mengambil tindakan. Tindakan mengalihkan wewenang.
“Wah gak bisa ini. Ini harus dirujuk ke Rumah Sakit. Ke AMC aja”
Saya lemas. Mendengar harus dirujuk ke rumah sakit, saya yang biasa strong mendadak lemas tak berdaya. Saya kepikiran macam-macam. Ini tadi hal sepele, ternyata bisa jadi segini seriusnya. Berarti saya gak bisa masuk kerja, berarti Uni akan tahu, biaya rumah sakit, keluarga, ini, itu gimana, bla,bla,bla???

Saya disuruh memakai kerudung lagi supaya darahnya tidak ngocor. Hufffhhh....

Saya kembali dibonceng si Aa tadi pakai motor untuk menuju rumah sakit. Saya di tengah, Iis di belakang saya. Kepala saya ditelunkup jaket. Jadi saya tidak tahu seperti apa perjalanan menuju Rumah Sakit AMC. Saya belum tahu AMC dimana. Ditambah dengan daya tahan tubuh yang semakin lemah, saya tidak peduli ini perjalanan mengarah kemana, utara, selatan, barat atau timur. Yang saya tahu saya lemas dan ingin tidur. Seandainya saya dibawa pakai mobil walaupun mobil pick up mungkin saya bisa tidur tertelap. Realitanya saya dibawa pakai motor  dengan driver yang baunya kurang sedap. Mantap! Saya harus kuat-kuatkan supaya jangan sampai kepala saya jatuh tertunduk melengkung nyandar ke punggung. Malu sama kerudung.
Singkat kata, sampailah kami di Rumah Sakit AMC. Turun dari motor saya langsung limbung. Saya dibawa ke UGD, dan langsung diserbu oleh beberapa petugas kesehatan. Jumlahnya sekitar 5 orang. Laki dan perempuan. Mereka bekerja secara cekatan. Tahu-tahu saya sudah dipasangi selang. Selang infus dan oksigen. Hffff saya bernafas lancar. Tidak perlu capek mangap-mangap hirup udara macam ikan sekarat. Tapi, lemas saya bertambah berkali-kali lipat. Lemas karena kepikiran hal sepele ini menjadi urusan berat.

Saya tergeletak pasrah tanpa tenaga membiarkan para ahli medis ini bekerja. Jaket saya dibuka, baju  kaos panjang saya digunting, saya dibiarkan cuma pakai tanktop. Untuk memudahkan proses penjahitan luka, rambut saya juga digunting. Digunting dengan asal dan compang-camping macam rambut Albert Einstein. Kiri panjang, kanan pendek, tengah botak. Sungguh gaya yang lumayan berat.

Walaupun saya lemas dan lelah, saya dilarang tidur. Selama para dokter bekerja, saya diwajibkan untuk selalu terjaga. Sedikit saya menutup mata, langsung ada yang menyenggol-nyenggol saya.
“Teh..teh bangun.... Jangan tidur ya”

Belakangan diketahui bahwa luka di kepala saya bisa sangat membahayakan apabila saya kehilangan kesadaran. Darah bisa mengalir ke pembuluh otak atau apalah yang menyebabkan ini itu entah apa, saya tidak paham urusan kedokteran.
Bisa kalian bayangkan bagaimana rasanya kepala dijahit dalam keadaan sadar? Inilah bagian yang paling menyenangkan, menenangkan sekaligus mengharukan. Serasa sedang dimanja dan dielus-elus emak (Hohoho...saya kan sudah tidak punya emak).

Sreettt....sreettttt.....

Suara benang jahitnya bisa terdengar di telinga saya. Saya mendapat tujuh jahitan luar dan 3 jahitan dalam.
Selesai proses penjahitan, kepala saya disiram Ternyata di bawah ranjang saya sudah ada beberapa ember berisi darah saya. Wah...saya seperti habis diperah darahnya. Lalu saya dibawa ke ruangan lain untuk melakukan rontgen.

Mari saya skip ke bagian bagian cerita selama saya nginep sehari di rumah sakit.


Hanya cerita biasa. Di rumah sakit inilah pertama kali saya melakukan tayamum dan sholat sambil berbaring. Saya mengalami tahap tak berdaya seperti anak kecil yang mau pipis saja harus diantar dan didorong pakai kursi roda. Sekejap kemudian saya membaik dan dipindahkan ke bangsal. Tentunya saya langsung menjadi pusat perhatian karena datang dengan kemasan kepala diperban dan rambut acak-acakan. Di rumah sakit membosankan dan sepi. HP mati. Untungnya ada Fitri, teman kampus saya yang bersedia datang dan membawakan charger. Adapula Anike yang ternyata belum pulang kampung ke NTT.

  
EFEK SETELAH PEMBACOKAN


Pembacokan ini memberi efek baik langsung maupun tidak langsung yang cukup meribetkan hidup saya setelahnya.
Pulang dari rumah sakit saya masih sering muntah-muntah. Makan juga masih susah, baru makan sedikit langsung muntah. Di hari pertama saya pulang ke kosan saya ditelfon kakak saya yang  ke-4 (saya punya 7 kakak) bahwa kakak, Si Roy (kakak saya yang ke 7) akan dirawat di rumah sakit, butuh biaya. Saya diminta untuk mengirimkan sejumlah uang. Saya tidak punya uang sebanyak itu. Lalu saya diminta untuk cari pinjaman. Saya sudah berusaha tapi tidak ada hasilnya. Failed. Mengecewakan. Saya tidak bisa diharapkan. Inilah yang membuat saya merasa kesal pada diri sendiri dan keadaan, merasa bersalah dan malu sampai sekarang. Sejak telefon itu saya tidak dikabari apa-apa lagi dari kampung. Kelanjutan cerita Si Roy bagaimana saya tidak tahu.

Kehidupan saya di Jatinangor terus berjalan. Jangan dikira setelah saya dibacok dan diperban saya berleye-leye di kasur atau santai-santai di kosan. Saya tetap diminta masuk kerja. Mungkin karena fisik saya terlihat sudah sehat, stand by di dalam mall dianggap bukan pekerjaan berat. Jadilah saya menjelma sebagai SPG toko yang selalu siap melayani dengan wajah sumringah. Padahal ini dibalik kerudung ada perban yang masih basah. Luka jahitan yang terasa senut-senut anggap saja itu rasa gatal digigit semut.

Di Jatos saya sempat bertemu Teh Devita dan Teh Emi. Mereka senior saya angkatan 2008. Teh Devita memang sering ke toko. Kadang beli, kadang sekadar mampir dan melihat-lihat. Kami lumayan dekat. Entah dari mana mulanya saya menceritakan tentang kecelakaan yang menimpa saya di Gunung Gelulis ke Teh Devita. Padahal saya cerita sambil bercanda ketawa-ketawa, ingat adegan-adegan konyol berduel dengan manusia kura-kura ninja, tapi cerita ini di telinga Teh Devita terdengar mengerikan.

Teh Devita ini adalah salah satu aktivis di DKM, maka wajar berita tentang saya tahu-tahu menyebar di kalangan mereka. Tiba-tiba saya dijenguk Teh Kartika. Bayangkan..  saya dijenguk di tempat kerja. Dibawakan oleh-oleh pula. Malu sebenarnya. Saya ini ngoyo atau apa? Sakit – sakit koq kerja? Ada juga Teh Dea dan Anike, yang bersedia meluangkan waktunya mengantar saya ceck up ke rumah sakit AMC karena waktu ke AMC yang pertama, saya sama sekali tidak tahu jalannya.
Alhamdulillah, saya dikelilingi orang-orang baik.

Kira-kira tiga minggu setelah tidak ada contact-contackan dengan keluarga di kampung barulah pada tanggal 11 Agustus 2010 saya mendapat kabar. Saat itu bertepatan dengan hari pertama bulan Ramadhan, saya ditelfon saat makan sahur. Yang menelfon Aji, keponakan saya.
“Lik pulang ya lik”
Saat ditanya kenapa, Aji tidak mau menjawab. Dia hanya mengatakan Umani sakit (Umani adalah panggilan Aji ke kakak saya Si Roy).
“Pokoknya Lik Nila pulang sekarang ya”

Dari nada bicaranya pasti ada sesuatu yang terjadi. Saya segera minta ijin ke Uni untuk pulang kampung. Tapi, momentnya mungkin dianggap kurang tepat. Di Jatos sedang butuh-butuhnya orang. Nanti malam ada break pameran. Kami harus loading barang. Maka saya tidak diijinkan pulang sekarang. Diminta untuk menyelesaikan urusan pameran sampai nanti malam.

Ya sudah, saya mah apa... tidak punya kuasa.

Pagi, sekitar pukul setengah 7 ada pesan singkat masuk:
“Lik, Umani ninggal”
Kakak saya meninggal. Saya bengong dan jari saya gemeteran. Mengetik SMS saja rasanya susah sekali. Saya pamit ke Uni, tidak peduli diijinkan atau tidak diijinkan saya tetap akan pulang sekarang. Kali ini Uni mengijinkan.
Berarti pas tadi sahur Aji menelfon, Si Roy sedang ada di masa-masa terakhirnya. Sakaratul maut. Jika tadi pas sahur saya langsung pulang, seharusnya saya masih punya kesempatan untuk bisa segera sampai ke Tegal dan menemuinya. Saya terlambat. Saya sampai ke Tegal, Si Roy sudah dimakamkan.

Si Roy adalah kakak saya yang paling muda. Selisih umur kami 4 tahun. Sebenarnya saya tidak tahu pasti dia ini kakak yang nomor 7 atau 6 karena Si Roy punya kembaran. Nama mereka Royani dan Ruslani. Panggilannya Si Roy dan Si Rus. Saya dan Si Roy, waktu kecil kami sering berkelahi. Dia sering menjengkelkan dan berbuat iri. Kami sama-sama suka bercocok tanam dan bertani. Tapi seringnya tanaman yang saya tanam, orang-orang mengira itu hasil tangan Royani. Mitos mereka : anak kembar tangannya kalau menanam-naman pasti jadi. Dalam benak saya semasa kecilpun Si Roy ini lebih disayang dan diutamakan. Jaman kecil saya pernah memanggilnya Cina Sipit, karena diantara kami sekeluarga, Si Roy yang paling putih dan sipit. Si Roy dewasa sepintas wajahnya seperti tukang galon di depan kampus Ikopin, atau seperti Gibran Rakabuming Raka. Tapi setelah lama tinggal di Tegal dan bekerja serabutan atau kuli bangunan dia hitam, kurus, kering, jadi seperti Jokowi.

Si Roy ini unik. Kecilnya suka menganiaya saya, setelah besar suka berkorban apa-apa untuk saya. Dia kadang pelit, pinter menyembunyikan duit, tapi aslinya dia sangat baik. Setelah si Roy merantau ke Jakarta, jika pulang kampung dia selalu membelikan oleh-oleh untuk saya. Dia hanya sekolah lulus SD tapi dia merelakan hak warisannya untuk biaya saya melanjutkan sekolah ke SMK. Dia bersedia pulang kampung menggantikan tugas saya dirumah supaya saya bisa mengejar masa depan yang lebih baik. Saya diberi ongkos ke Jakarta untuk mengikuti ujian masuk STAN. Tapi saya gagal masuk STAN.

Gagal dari STAN Saya diterima kerja di Bandung. Si Roy saya mintai pendapat dan dia mendukung. Itu artinya dia harus rela gantian dengan saya untuk tinggal di Tegal. Di Tegal kami punya seorang kakak yang sakit dan terganggu kejiwaannya sehingga butuh perawatan. Sejak saya kecil kelas 5 SD sampai dengan saya lulus SMK tugas merawat kakak ada ditangan saya, yang lainnya bekerja di Jakarta. Dan karena saya juga akan merantau berarti tugas ini digantikan si Roy.

Setelah saya bekerja di Bandung dan mendapat gaji. Saya membuka rekening bank. Kartu ATM nya saya serahkan ke Si Roy. Maksudnya supaya saya bisa lebih mudah kalau mengirim uang. Pertama kali saya bisa beli handphone, handphone itu pun saya kirimkan untuk Si Roy. Untuk diri saya sendiri, saya baru memiliki handphone beberapa bulan kemudian. Si Roy ini amanah sekali. ATM yang saya beri dijaga dan disembunyikan baik-baik. Kakak-kakak lain tidak ada yang diberi tahu meskipun saat itu mereka sedang pailit dan butuh duit. Handphone pun sangat dia jaga. Baru setelah beberapa tahun dia pengang, Si Roy minta ijin supaya handphonenya dijual untuk makan dan biaya pengobatan. Si Roy mulai sakit-sakitan sehingga jarang bekerja dan pemasukannya berkurang.

Si Roy sekarang tinggal kenangan. Dia pulang ke rahmatullah dalam usia yang relatif muda. Belum menikah. Meninggalkan kesan kebaikan di benak masing-masing orang yang mengenalnya. Dia meninggal membawa nama baik. Sungguh hal ini membuat saya iri, tapi irinya yang positif.

Orang-orang baik yang meninggal muda memang kadang membuat saya iri. Dalam esensi saya, meninggal dunia berarti pulang ke rumah yang sebenarnya, kembali ke penciptanya. Diibaratkan orang-orang baik yang meninggal muda itu berarti sangat disayang dan dirindukan Tuhan. Maka ketika tugasnya selesai, Tuhan cepat-cepat memanggilnya. Sayang-sayang kalau terlalu lama di dunia. Dunia ini banyak sekali godaaannya. Jadi Tuhan memanggilnya, karena Tuhan merindukan dia pulang.
Itulah yang ada di mindset saya. Wallahu a’lam bishawab.

Cerita pembacokan ini melebar jauh kemana-mana. 
Intinya karena kecelakaan itu efeknya saya tidak diberitahu kabar apa-apa lagi dari Tegal. Sebelum meninggal si Roy sempat dirawat di rumah sakit selama hampir dua minggu pun saya tidak diberitahu. Barulah pada hari dimana si Roy meninggal saya diberi kabar, dan karena hal itulah saya bisa pulang kampung. Saya stay di Tegal satu minggu. Saat di Tegal saya diberi info dari DKM kampus sekaligus undangan pernikahannya Teh Devita. Tempatnya di Rancaekek. Tentu saya tidak bisa hadir.

Efek lainnya setelah saya mengalami kecelakaan di Gunung Geulis  adalah saya jadi sering mengompol. What?!!
Sulit dibayangkan bahwa seorang Nila, perempuan, muslimah, mahasiswa, sudah umur berapa masih ngompol juga. Ya itulah kenyataan yang memalukan pasca saya mendapat kecelakaan. Mungkin pengaruh konsumsi obat atau apa. Saya sering ngompol dalam waktu yang lumayan lama, sekitar beberapa minggu bahkan beberapa bulan. Sungguh ini pengakuan yang memalukan. Selama ini tidak ada satu temanpun yang saya beritahu. (Sekarang, siapapun yang baca ini jadi tahu). Dulu yang tahu cuma boss saya. Mereka juga yang menyaksikan bagaimana tidak berdayanya saya pasca kejadian pembacokan.

Efek pembacokan yang juga sangat memporak-porandakan hidup saya adalah saya jadi sering mengantuk. Bahkan bisa saya bilang ini kantuk yang sangat-sangat tidak wajar. Saya bisa tertidur dalam keadaan berdiri, bisa tidur di toilet, dimanapun dan kapanpun. Saya jadi Tuti Tomur, (Tukang tidur, tulang molor). Saya pernah mengonsultasikan masalah ini ke dokter di Klinik Waras Waluya samping Jatos. Padahal saya tidak cerita apa-apa tapi dokter itu menduga saya pernah mengalami kecelakaan di kepala. Saya direkomendasikan untuk menemui dokter ahli syaraf di Sumedang. Itu rekomendasi yang berat karena selain tidak punya waktu, saya juga tidak punya uang banyak. Jadi pemeriksaan tidak dilanjut. Keadaan saya yang suka ngantuk-ngantuk seperti ayam mau dipotong terjadi dalam waktu yang lama, sampai beberapa semester. Ditambah lagi dengan beban kerja yang semakin berat, kuliah saya berantakan. Saya sering tertidur di kelas. IPK 4,00 saya pecah tinggal sejarah. Saya mendapat dua nilai C sekaligus di semester 3. IPK saya terjun bebas. Hihi tak apa. Semangat terus kedepannya.

Ah manusia kura-kura ninja. Kau memporak-porandakan hidup saya.

Apakah setelah kejadian pembacokan di Gunung saya jadi trauma? Sepertinya tidak. Hanya saja setelah kejadian itu saya tidak berani pergi-pergi sendiri. Kalau sedang jalan kaki dan tiba-tiba berpapasan dengan seseorang, awalnya saya merasa biasa saja. Tapi begitu orang itu sudah dekat dan tepat di samping saya, saya langsung deg-degan.
Ah, abaikan.
Tapi tetap waspada terhadap segala kemungkinan.
Sampai dengan detik ini saya masih suka keindahan alam. Saya cinta gunung. That’s my chapter of life. Ada yang bilang passion is passion. Kalau itu bikin jantungmu berdebar dan merasa hidup, kejar dan jangan pernah ditinggalkan.


DOKUMENTASI





Saya bersama teman Pondok Al Barokah yang kerja di Jatos. Nining bekerja di kaos kaki (Lantai F), dan Bang Ed di Sepatu Orchard (Lantai LGF). Foto ini diambil meggunakan kamera milik Bang Ed.

Di bukit Panorama tanggal 5 Mei tahunnya lupa.
Saya bersama teman Pondok Al Barokah yang kerja di Jatos. Nining bekerja di kaos kaki (Lantai F), dan Bang Ed di Sepatu Orchard (Lantai LGF). Foto ini diambil meggunakan kamera milik Bang Ed.







Di bukit Panorama bersama Mbak Ira, teman sekelas.






Di bukit ladang tembakau arah turun menuju perkampungan dan komplek perumahan Panorama. View belakangnya adalah Gunung Manglayang. Foto ini diambil saat saya ke tempat ini bersama Anike dan Mbak Ira.








Ini ransel Si Roy. Ransel yang pernah dirampok begal. Sampai sekarang ransel ini masih saya simpan.







Kerudung yang saya pakai saat terjadi pembacokan, bekas perban dan kaos kaki yang terkena darah.





hasil rontgen

hasil rontgen


Diam - Diam Balas Dendam

Apa korelasinya antara gak bisa tidur dan setrika? Kalau pengalaman pribadi saya sih ada. Sodara-sodara... sebenarnya...